Frima Nainggolan Web Blog. Powered by Blogger.
Showing posts with label Organisasi. Show all posts
Showing posts with label Organisasi. Show all posts

Thursday, 24 November 2011

PENTINGNYA BERORGANISASI

Sudah merupakan tuntutan naluri untuk berinteraksi satu sama lain dalam kehidupan kita , dan senada dengan kata - kata filsuf yunani bahwa, manusia adalah makhluk sosial yang senantasa saling memerlukan satu sama lain.

Organisasi pada umumnya digunakan sebagai tempat atau wadah dimana orang-orang berkumpul, bekerjasama secara rasional dan sistematis, terencana, terorganisasi, terpimpin dan terkendali, dalam memanfaatkan sumber daya organisasi yaitu seperti uang, material, mesin, metode, lingkungan, sarana-parasarana, data, dan lain sebagainya yang dipergunakan secara efisien dan efektif untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.

Menurut para ahli terdapat beberapa pengertian organisasi sebagai berikut :

* Stoner mengatakan bahwa organisasi adalah suatu pola hubungan-hubungan yang melalui mana orang-orang di bawah pengarahan atasan mengejar tujuan bersama

* James D. Mooney mengemukakan bahwa organisasi adalah bentuk setiap perserikatan manusia untuk mencapai tujuan bersama.

* Chester I. Bernard berpendapat bahwa organisasi adalah merupakan suatu sistem aktivitas kerja sama yang dilakukan oleh dua orang atau lebih.

* Stephen P. Robbins menyatakan bahwa Organisasi adalah kesatuan (etity) sosial yang dikoordinasikan secara sadar, dengan sebuah batasan yang relatif dapat diidentifikasikasi, yang bekerja atas dasar yang relatif terus menerus untuk mencapai suatu tujuan bersama atau sekelompok tujuan.

Sebuah organisasi dapat terbentuk karena dipengaruhi oleh beberapa aspek seperti penyatuan visi dan misi serta tujuan yang sama dengan perwujudan eksistensi sekelompok orang tersebut terhadap masyarakat. Karena sebuah organisasi yang baik adalah organisasi yang dapat diakui keberadaannya oleh masyarakat yang ada disekitarnya, keberadaan ini tentunya berupa suatu kontribusi yang diberikan sebuah organisasi tersebut.

Kontribusi-kontribusi tersebut bisa berupa pengambilan sumber daya manusia dalam negeri sebagai anggota-anggotanya, sehingga angka pengangguran yang meningkat tiap tahunnya dapat ditekan seminimal mungkin. Orang-orang yang ada di dalam suatu organisasi mempunyai suatu keterkaitan yang terus menerus.

Rasa keterkaitan ini, bukan berarti keanggotaan seumur hidup. Akan tetapi sebaliknya, organisasi menghadapi perubahan yang konstan di dalam keanggotaan mereka, meskipun pada saat mereka menjadi anggota, orang-orang dalam organisasi berpartisipasi secara relatif teratur.

Organisasi terdapat di segala jenjang , sebagai contoh untuk murid Sekolah Dasar .. Walaupun, masih terlalu dini Organisasi pada jenjang dasar ini diperkenalkan dengan adanya Pramuka , dan Dokter Cilik .

Pengenalan berOrganisasi pada usia dini sangatlah penting dikarenakan , Organisasi dapat membentuk seseorang menjadi terarah dan mempunyai tujuan dalam melaksanakan sesuatu.

Dalam membentuk suatu organisasi tentunya mempunyai tujuan yang sama agar suatu organisasi tersebut dapat berjalan secara sinergis dan harmonis. Tidak ada satu pun Organisasi di dunia ini yang dapat berjalan tanpa tujuan yang jelas.

Adapun Organisasi tersebut akan berpengaruh terhadap kehidupan kita , dikarenakan kita dipengaruhi oleh ideologi / tujuan dari suatu organisasi. Oleh karena itu , Organisasi mempunyai kekurangan dan kelebihan . Sehingga , kita harus berhati - hati dalam mengikuti suatu organisasi.
Baca Selengkapnya

Komunikasi Organisasi

Komunikasi organisasi pada umumnya membahas tentang struktur dan fungsi organisasi, hubungan antarmanusia, komunikasi dan proses pengorganisasian serta budaya organisasi. Komunikasi organisasi diberi batasan sebagai arus pesan dalam suatu jaringan yang sifat hubungannya saling bergantung satu sama lain meliputi arus komunikasi vertikal dan horisontal.

Gaya komunikasi organisasi

Gaya komunikasi mengendalikan

Gaya komunikasi mengendalikan (dalam bahasa Inggris: The Controlling Style) ditandai dengan adanya satu kehendak atau maksud untuk membatasi, memaksa dan mengatur perilaku, pikiran dan tanggapan orang lain. Orang-orang yang menggunakan gaya komunikasi ini dikenal dengan nama komunikator satu arah atau one-way communications.

Pihak - pihak yang memakai controlling style of communication ini, lebih memusatkan perhatian kepada pengiriman pesan dibanding upaya mereka untuk berharap pesan. Mereka tidak mempunyai rasa ketertarikan dan perhatian untuk berbagi pesan. Mereka tidak mempunyai rasa ketertarikan dan perhatian pada umpan balik, kecuali jika umpan balik atau feedback tersebut digunakan untuk kepentingan pribadi mereka. Para komunikator satu arah tersebut tidak khawatir dengan pandangan negatif orang lain, tetapi justru berusaha menggunakan kewenangan dan kekuasaan untuk memaksa orang lain mematuhi pandangan-pandangannya.

Pesan-pesan yag berasal dari komunikator satu arah ini, tidak berusaha ‘menjual’ gagasan agar dibicarakan bersama namun lebih pada usaha menjelaskan kepada orang lain apa yang dilakukannya. The controlling style of communication ini sering dipakai untuk mempersuasi orang lain supaya bekerja dan bertindak secara efektif, dan pada umumnya dalam bentuk kritik. Namun demkian, gaya komunikasi yang bersifat mengendalikan ini, tidak jarang bernada negatif sehingga menyebabkan orang lain memberi respons atau tanggapan yang negatif pula.


Gaya komunikasi dua arah

The Equalitarian Style Aspek penting gaya komunikasi ini ialah adanya landasan kesamaan. The equalitarian style of communication ini ditandai dengan berlakunya arus penyebaran pesan-pesan verbal secara lisan maupun tertulis yang bersifat dua arah (two-way communication). Dalam gaya komunikasi ini, tindak komunikasi dilakukan secara terbuka. Artinya, setiap anggota organisasi dapat mengungkapkan gagasan ataupun pendapat dalam suasana yang rileks, santai dan informal. Dalam suasana yang demikian, memungkinkan setiap anggota organisasi mencapai kesepakatan dan pengertian bersama.

Orang-orang yang menggunakan gaya komunikasi yang bermakna kesamaan ini, adalah orang-orang yang memiliki sikap kepedulian yang tinggi serta kemampuan membina hubungan yang baik dengan orang lain baik dalam konteks pribadi maupun dalam lingkup hubungan kerja. The equalitarian style ini akan memudahkan tindak komunikasi dalam organisasi, sebab gaya ini efektif dalam memelihara empati dan kerja sama, khususnya dalam situasi untuk mengambil keputusan terhadap suatu permasalahan yang kompleks. Gaya komunikasi ini pula yang menjamin berlangsungnya tindak berbagi informasi di antara para anggota dalam suatu organisasi.

3. The Structuring Style Gaya komunikasi yang berstruktur ini, memanfaatkan pesan-pesan verbal secara tertulis maupun lisan guna memantapkan perintah yang harus dilaksanakan, penjadwalan tugas dan pekerjaan serta struktur organisasi. Pengirim pesan (sender) lebih memberi perhatian kepada keinginan untuk memengaruhi orang lain dengan jalan berbagi informasi tentang tujuan organisasi, jadwal kerja, aturan dan prosedur yang berlaku dalam organisasi tersebut.

Stogdill dan Coons dari The Bureau of Business Research of Ohio State University, menemukan dimensi dari kepemimpinan yang efektif, yang mereka beri nama Struktur Inisiasi atau Initiating Structure. Stogdill dan Coons menjelaskan mereka bahwa pemrakarsa (initiator) struktur yang efisien adalah orang-orang yang mampu merencanakan pesan-pesan verbal guna lebih memantapkan tujuan organisasi, kerangka penugasan dan memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang muncul.

4. The Dynamic style Gaya komunikasi yang dinamis ini memiliki kecenderungan agresif, karena pengirim pesan atau sender memahami bahwa lingkungan pekerjaannya berorientasi pada tindakan (action-oriented). The dynamic style of communication ini sering dipakai oleh para juru kampanye ataupun supervisor yang membawa para wiraniaga (salesmen atau saleswomen).

Tujuan utama gaya komunikasi yang agresif ini adalah mestimulasi atau merangsang pekerja/karyawan untuk bekerja dengan lebih cepat dan lebih baik. Gaya komunikasi ini cukup efektif digunakan dalam mengatasi persoalan-persoalan yang bersifat kritis, namun dengan persyaratan bahwa karyawan atau bawahan mempunyai kemampuan yang cukup untuk mengatasi masalah yang kritis tersebut.

5. The Relinguishing Style Gaya komunikasi ini lebih mencerminkan kesediaan untuk menerima saran, pendapat ataupun gagasan orang lain, daripada keinginan untuk memberi perintah, meskipun pengirim pesan (sender) mempunyai hak untuk memberi perintah dan mengontrol orang lain.

Pesan-pesan dalam gaya komunikasi ini akan efektif ketika pengirim pesan atau sender sedang bekerja sama dengan orang-orang yang berpengetahuan luas, berpengalaman, teliti serta bersedia untuk bertanggung jawab atas semua tugas atau pekerjaan yang dibebankannya.

6. The Withdrawal Style Akibat yang muncul jika gaya ini digunakan adalah melemahnya tindak komunikasi, artinya tidak ada keinginan dari orang-orang yang memakai gaya ini untuk berkomunikasi dengan orang lain, karena ada beberapa persoalan ataupun kesulitan antarpribadi yang dihadapi oleh orang-orang tersebut.

Dalam deskripsi yang kongkrit adalah ketika seseorang mengatakan: “Saya tidak ingin dilibatkan dalam persoalan ini”. Pernyataan ini bermakna bahwa ia mencoba melepaskan diri dari tanggung jawab, tetapi juga mengindikasikan suatu keinginan untuk menghindari berkomunikasi dengan orang lain. Oleh karena itu, gaya ini tidak layak dipakai dalam konteks komunikasi organisasi.

jadi yang dimaksud dengan Komunikasi organisasi adalah pengiriman dan penerimaan berbagai pesan organisasi di dalam kelompok formal maupun informal dari suatu organisasi (Wiryanto, 2005). Komunikasi formal adalah komunikasi yang disetujui oleh organisasi itu sendiri dan sifatnya berorientasi kepentingan organisasi. Isinya berupa cara kerja di dalam organisasi, produktivitas, dan berbagai pekerjaan yang harus dilakukan dalam organisasi. Misalnya: memo, kebijakan, pernyataan, jumpa pers, dan surat-surat resmi. Adapun komunikasi informal adalah komunikasi yang disetujui secara sosial. Orientasinya bukan pada organisasi, tetapi lebih kepada anggotanya secara individual.

Komunikasi Organisasi juga dapat didefinisikan sebagai pertunjukkan dan penafsiran pesan di antara unit-unit komunikasi yang merupakan bagian suatu organisasi tertentu. Suatu organisasi terdiri dari dari unit-unit komunikasi dalam hubungan hierarkis antara yang satu dengan lainnya dan berfungsi dalam suatu lingkungan.


PROSES KOMUNIKASI ORGANISASI

KOMUNIKASI INTERNAL

Pertukaran gagasan di antara para administrator dan karyawan dalam suatu perusahaan, dalam struktur lengkap yang khas disertai pertukaran gagasan secara horisontal dan vertikal di dalam perusahaan, sehingga pekerjaan dapat berjalan.[3]. Empat Dimensi Komunikasi organisasi

1. Downward communication Yaitu komunikasi yang berlangsung ketika orang-orang yang berada pada tataran manajemen mengirimkan pesan kepada bawahannya. Fungsi arus komunikasi dari atas ke bawah ini adalah: a) Pemberian atau penyimpanan instruksi kerja (job instruction) b) Penjelasan dari pimpinan tentang mengapa suatu tugas perlu untuk dilaksanakan (job retionnale) c) Penyampaian informasi mengenai peraturan-peraturan yang berlaku (procedures and practices) d) Pemberian motivasi kepada karyawan untuk bekerja lebih baik.

Ada 4 metode dalam penyampaian informasi kepada para pegawai menurut Level (1972): 1. Metode tulisan 2. Metode lisan 3. Metode tulisan diikuti lisan 4. Metode lisan diikuti tulisan

2. Upward communication Yaitu komunikasi yang terjadi ketika bawahan (subordinate) mengirim pesan kepada atasannya. Fungsi arus komunikasi dari bawah ke atas ini adalah:

  1. Penyampaian informai tentang pekerjaan pekerjaan ataupun tugas yang sudah dilaksanakan.
  2. Penyampaian informasi tentang persoalan-persoalan pekerjaan ataupun tugas yang tidak dapat diselesaikan oleh bawahan.
  3. Penyampaian saran-saran perbaikan dari bawahan.d) Penyampaian keluhan dari bawahan tentang dirinya sendiri maupun pekerjaannya.


Komunikasi ke atas menjadi terlalu rumit dan menyita waktu dan mungkin hanya segelintir kecil manajer organisasi yang mengetahui bagaimana cara memperoleh informasi dari bawah. Sharma (1979) mengemukakan 4 alasan mengapa komunikasi ke atas terlihat amat sulit:

  1. Kecenderungan bagi pegawai untuk menyembunyikan pikiran mereka.
  2. Perasaan bahwa atasan mereka tidak tertarik kepada masalah yang dialami pegawai.
  3. Kurangnya penghargaan bagi komunikasi ke atas yang dilakukan pegawai.
  4. Perasaan bahwa atasan tidak dapat dihubungi dan tidak tanggap pada apa yang disampaikan pegawai.


3. Horizontal communication Yaitu komunikasi yang berlangsung di antara para karyawan ataupun bagian yang memiliki kedudukan yang setara. Fungsi arus komunikasi horisontal ini adalah:

  1. Memperbaiki koordinasi tugas.
  2. Upaya pemecahan masalah.
  3. Saling berbagi informasi.
  4. Upaya pemecahan konflik.
  5. Membina hubungan melalui kegiatan bersama.


4. Interline communication Yaitu tindak komunikasi untuk berbagi informasi melewati batas-batas fungsional. Spesialis staf biasanya paling aktif dalam komunikasi lintas-saluran ini karena biasanya tanggung jawab mereka berhubungan dengan jabatan fungsional. Karena terdapat banyak komunikasi lintas-saluran yang dilakukan spesialis staf dan orang-orang lainnya yang perlu berhubungan dalam rantai-rantai perintah lain, diperlukan kebijakan organisasi untuk membimbing komunikasi lintas-saluran.


Ada dua kondisi yang harus dipenuhi dalam menggunakan komunikasi lintas-saluran:

  1. Setiap pegawai yang ingin berkomunikasi melintas saluran harus meminta izin terlebih dahulu dari atasannya langsung.
  2. Setiap pegawai yang terlibat dalam komunikasi lintas-saluran harus memberitahukan hasil komunikasinya kepada atasannya.

http://id.wikipedia.org/wiki/Komunikasi_organisasi
Baca Selengkapnya

Analisa Sosial (ANSOS)

Apa ANSOS.?

Istilah ANSOS, pada dasarnya tidak selalu dipakai dalam arti yang sama. Dalam konteks pergerakan, istilah Ansos dapat dipahami sebagai usaha untuk menganalisis sesuatu keadaan atau masalah sosial secara objektif, upaya ini dilakukan untuk menempatkan suatu masalah tertentu dalam konteks realitas sosial yang lebih luas yang mencakup konsep waktu (sejarah), konteks struktur (ekonomi, sosial, politik, budaya, konteks nilai, dan konteks tingkat atau arah lokasi, Yang dalam prosesnya analisis sosial merupakan usaha untuk mendapatkan gambaran yang lengkap mengenai hubungan-hubungan struktural, kultural dan historis, dari situasi sosial yang diamati.


Ruang lingkup ANSOS.?

Pada dasarnya semua realitas sosial dapat dianalisis, namun dalam konteks transformasi sosial, maka paling tidak objek analisa sosial harus relevan dengan target perubahan social yang direncanakan yang sesuai dengan visi atau misi organisasi. Secara umum objek social yang dapat di analisis antara lain :

  1. Masalah-masalah sosial, seperti; kemiskinan, pelacuran, pengangguran, dan kriminilitas Sistem social, seperti: tradisi, usha kecil atau menengah, sistem pemerintahan, sitem pertanian.
  2. Lembaga atau organisasi sosial seperti sekolah layanan rumah sakit, lembaga pedesaan, NU, Muhamadiyah, PII.
  3. Kebijakan public seperti : dampak kebijakan BBM, dampak perlakuan sebuah UU.

1. Analisis social menggali realitas, sebagai fenomena dalam keberagaman dimensinya, seperti:

  • Masalah-masalah khusus, seperti pengangguran, kelaparan, inflasi dll
  • Kebijakan-kebijakan (policies) seperti pelatihan kerja, pengawasan moneter, program bantuan pangan, pelayanan publik, dsb.
  • Menyelidiki struktur-struktur yang lebih luas, lebih dalam, atau lebih spesifik dari isntitusi-institusi (pranata) ekonomi, politik, social budaya.
  • Memfokuskan diri pada system-sistem yang berada dibalik dimensi-dimensi kebijakan dan struktur, seperti system politik sebagai subsistem dari system social tertentu; atau tananan politik (political order) sebagai sebuah system dengan landasan kulturalnya.

2. Menganalisis social dalam artian waktu (analisis histories) berupa studi tentang perubahan-perubahan system social dalam kurun waktu tertentu.

3. Menganalisis system social dalam artian ruan (analisis structural), yang menyajikan aspek tertentu, dari keseluruhan kerangka kerja sebuah system pada suatu momen waktu.(hal yang disebut dalam no.2 dan 3, biasanya digunakan secara bersama untuk suatu analisis yang menyeluruh)

4. Analisis yang membedakan (1) dimensi obyektif, dan (2) dimensi subyektif dari realitas social. Pertama menyangkut aneka ragam organisasi, pola-pola perilaku, dan pranata-pranata (institusi), yang kedua meliputi kesadaran, nilai, ideology. Melakukan analisis social, dalam hal ini adalah menganalisis unsure-unsurnya, supaya bisa memahami gerak perubahan dari asumsi-asumsi yang mendasarinya pada situasi social tertentu. Pertanyaan-pertanyaan yang dirumuskan dalam analisis social, berusaha membuka tabir hal-hal; nilai, pandangan, keputusan dari para pelaku (aktor social) pada suatu situasi tertentu.


LANGKAH-LANGKAH
1. Membangun perumusan masalah, yang menjadi pusat perhatian
2. Membangun konsep-teoritis atas konteks realitas
3. Mengenali struktur-struktur kunci yang mempengaruhi situasi yang ada
4. Menyusun pertanyaan-pertanyaan untuk membangun sebuah konteks
5. Menghimpun fakta-fakta, data-data yang berkorelasi dan melatarbelakangi
6. Menyusun model-model, mengkaji-menguji relevansinya
7. Menguji beberapa jawaban pada korelasi dan keabsahan
8. Menggali masalah lain yang muncul

Baca Selengkapnya

Orientasi Pers Mahasiswa Paska ‘98

Sejarah Pers Mahasiswa

Sejarah pers di Indonesia sama tuanya dengan pergerakan nasional. Dalam sejarah perjuangan bangsa, dikenal tahun 1908 sebagai tonggak kebangkitan nasional yang ditandai dengan perubahan pola perjuangan dengan manajemen lebih modern. Tahun itu pula media-media nasional mulai bermunculan. Media yang ada lebih sebagai media agitasi dan propaganda dari perjuangan melawan kolonialisasi. Pembentukan rasa nasionalisme sangat kental dalam isi media tersebut. Tahap ini mengalami puncaknya ketika pemuda-pemudi saat itu berikrar bersama dalam semangat nasionalisme yang kemudian lebih dikenal sebagai sumpah pemuda. Memasuki masa kemerdekaan, agitasi dan propaganda lebih dikonsentrasikan pada upaya mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Dikotomik pers mahasiswa dan pers umum mulai muncul tahun 1950-an. Tahun 1950 merupakan tahun kemenangan strategi diplomasi, dimana perjuangan-perjuangan mempertahankan kemerdekaan diselesaikan di meja perundingan. Saat itu, laskar-laskar rakyat diserukan kembali pada aktivitas masing-masing, yang berkerja di ladang kembali ke ladang, yang berjualan di pasar kembali ke pasar dan yang sekolah kembali ke sekolah (kampus). Tahun itu juga di Indonesia berlangsung demokrasi parlementer dimana kekuasaan dikendalikan oleh partai politik. Kekuasaan partai politik menembus samapi media dan kampus, saat itu semua media harus berafiliasi dengan partai politik tertentu. Dus, media menjadi corong dari program dan kepentingan partai politik. Begitu pun dengan kampus, partai politik mempunyai kebebasan untuk memasuki kampus. Partai Sosialis Indonesia (PSI) mendirikan Gerakan Mahasiswa Sosialis (GMS), Masyumi mendirikan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Partai Komunis Indonesia mendirikan Central Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI) dan partai-partai lain pun menancapkan kakinya di dalam kampus.

Itulah awal dikenal adanya gerakan mahasiswa, jika sebelumnya hanya dikenal gerakan pemuda melalui laskar-laskar rakyat, sejak itu konsentrasi gerakan beralih di kampus-kampus melalui entitas bernama mahasiswa. Begitu pun dengan pers mahasiswa, pers yang bergerak dalam lingkungan kampus dan dikelola oleh mahasiswa. Sementara pers yang bergerak di luar kampus dikenal dengan istilah pers umum. Dikotomik pun mulai bergulir.
Konsolidasi pers mahasiswa mengental dengan ditandai berdirinya Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia (IPMI) pada tahun 1955. IPMI lahir dalam masa transisi demokrasi parlementer menuju demokrasi terpimpin. Wajar jika pilihan perjuangan saat itu dikonsentrasikan pada perjuangan untuk menghapus sistem demokrasi terpimpin yang otoriter, hingga rejim Soekarno dijatuhkan oleh kolaborasi militer dan gerakan mahasiswa.

Awal Orde Baru adalah masa bulan madu antara pers mahasiswa (IPMI) dengan kekuasaan, tapi ini hanya berlangsung sesaat, tahun 1970 kembali pers mahasiswa mendapatkan intimidasi dari kekuasaan militer Soeharto. Pembredelan-pembredelan dilakukan, hingga tuntutan IPMI harus menggabungkan diri dalam KNPI atau mengambil resiko dibubarkan.

Memasuki tahun 1980-an, praktis IPMI tidak mampu meneruskan konsolidasi gerakan pers mahasiswa. Beradaptasi dengan system baru NKK/BKK, pers mahasiswa berubah menjadi unit kegiatan minat-bakat sebagai UKM Jurnalistik, ataupun Unit Kegiatan Pers Mahsiswa. Namun aktivis pers mahasiswa tidak pernah surut, mulai tahun 1986, dilakukan konsolidasi secara sembunyi-sembunyi untuk membentuk suatu wadah baru pers mahasiswa. Baru pada tahun 1992, upaya ini membuahkan hasil, pada tanggal 15 Oktober 1992, disepakati terbentuknya Perhimpunan Penerbit Mahasiswa Indonesia (PPMI, saat itu tidak diijinkan menggunakan istilah pers mahasiswa) sebagai wadah alternatif yang berupaya memupuk orientasi gerakan pers mahasiswa. Gerakan PPMI saat itu lebih sebagai upaya pembongkaran sistem NKK/BKK.


Liberalisasi Pers dan Pers Mahasiswa

Jatuhnya rejim Soeharto adalah peralihan hegemoni kekuasaan pada liberalisasi pers. Penantian yang panjang terhadap kebebasan pers ternyata tidak semulus yang diharapkan. Liberalisasi pers menghasilkan banyak setumpuk persoalan terkait dengan kepemilikan modal. Siapakah yang berkuasa dalam media? Secara sederhana, pemilik media (pemodal) mempunyai kekuasaan atas media tersebut. Dan berdasarkan penelitian ISAI (Istitut Studi Arus Informasi) yang dipublikasikan pada tahun 2001, menyebutkan bahwa pemilik media di Indonesia masih dikuasai oleh kelompok status quo, Keluarga Cendana dan kroni-kroninya (media cetak maupun media elektronik).

Penelitian ini mengindikasikan bahwa pembentukan opini umum masih banyak dikendalikan oleh rejim orde baru, sehingga harapan adanya pencerahan bagi masyarakat masih sulit diwujudkan.Sejalan dengan kebebasan pers, juga memunculkan sikap profesionalisme sebagai batasan tegas terhadap kebebasan yang kebablasan. Ciri profesionalisme bisa dilihat dari lima hal, yaitu : bersifat keilmuan, berorientasi ke publik dan terukur, ada moralitas (kode etik), mempunyai organisasi profesi, dan mempunyai kesungguhan (loyalitas tunggal). Namun, profesionalisme media (pers) yang digembar-gemborkan pers umum ternyata runtuh karena adanya kepentingan pemilik modal. Dalam banyak kasus, pemilik media lebih mengedepankan penaikkan oplah serta berita yang bombastis/ tendensius. Pemilik modal sering mengawasi tajuk rencana dari media, untuk memasukkan kepentingan-kepentingannya. Orientasi pada publik dan pencerahan masyarakat, sering diabaikan demi naiknya oplah media.

Berbeda dengan pers mahasiswa. Pers Mahasiswa mengandung dua istilah di dalamnya, yaitu pers, dan mahasiswa. Pemahaman pers, mengacu pada teori secara umum, mempunyai empat fungsi utama yaitu: Informasi dan hiburan, Pendidikan, Kontrol Soisal, dan Social Enggineering (Perekayasaan Sosial). Sementara pemahaman mahasisiwa selalu berkaitan dengan kampus. Mahasiswa adalah kelompok usia muda antara 17-25 tahun. Pada usia ini, manusia cenderung bersikap komunal (suka ngumpul), tidak terikat finansial (masih nebeng ortu), belum berumah tangga, punya semangat dan energi yang berlebih, dan kritis. Usia mahasiswa adalah usia dengan ciri yang kritis, bersemangat, idealis, dan usia yang produktif.

Keterkaitan mahasiswa dengan kampus meliputi persoalan-persoalan pendidikan, pengabdian masyarakat, kesejahtaeraan mahasiswa, dan aktualisasi diri. Karena itu, dinamika pers mahasiswa juga merupakan cerminan dari persoalan-persoalan tersebut. Tentu saja, pers mahasiswa harus memposisikan dirinya secara ilmiah, karena pers mahasiswa merupakan perpaduan antra pers dengan dunia kampus.

Karakter yang khas dari pers mahasiswa, membuat pers mahsiswa mempunyai posisi pas untuk melepaskan diri dari jebakan modal. Di tengah-tengah ketidakmampuan pers umum untuk melakukan pendidikan atau pencerahan kepada masuyarakat, pers mahasiswa sangat mungkin untuk mengambil peran tersebut.

Pers Mahasiswa paska ‘98


Paska ’98, persma sedang menerapkan paradigma baru dalam gerakannya, oleh karena itu seyogyanya persma tidak lagi hanya melakukan pendekatan-pendekatan yang romantis. Transformasi kebudayaan lewat media audiovisual berkembang dengan pesat. Seharusnya persma melihat itu sebagai lahan perjuangan. Karena kebetulan hingga kini masih belum ada pers yang memiliki ruh perjuangan yang jelas yang masuk ke dalamnya. Ketika hal itu sudah terjadi, maka pertempuran-pertempuran kecil sudah dimulai.

Menurut saya, pentinglah dari sekarang memahami dan menerawang jauh ke depan, misalnya 20 tahun dari sekarang. Pada saat itu pasti akan terjadi suatu pembenturan di dunia. Kalau kemarin kita ketahui benturan yang terjadi adalah lewat benturan ekonomi, lalu militer bahkan ideologi. Walaupun ternyata belum selesai lewat ideologi sehingga tercipta pembagian kiri-kanan, barat-timur. Sehingga sekarang perlu bagi kita untuk memprediksikan lewat apa benturan yang akan terjadi pada 20 tahun kedepan. Saat ini bukan lagi saatnya kita memikirkan kejadian kekinian karena itu hanyalah sebuah pendangkalan pikir.

Yang perlu kita lakukan sekarang adalah bagaimana melakukan resistensi lewat persma. Misalkan saja ketika bicara tentang rakyat, tampaknya mahasiswa sangat semangat. Tapi selama dia masih menjadi mahasiswa, itu masih sebatas wacana. Realitasnya sebenarnya baru akan muncul ketika mahasiswa telah lulus dan terjun di masyarakat, dan sering kali mereka tidak setia lagi dengan ideologi mereka semula. Contonya sekarang banyak aktivis mahasiswa yang ternyata tidak lagi setia kepada rakyat dan menjadi pedagang politik kelas wahid. Kesimpulanya iman perjuangan itu penting di pers mahasiwa. Pertanyaannya mengapa pers mahasiswa cenderung mampu menjaga kesetiaan ideologi mereka dibanding dengan orang yang telah terjun di masyarakat? Jawabannya mungkin karena di sana ada tanggung jawab intelektual. Karena bagi orang yang memiliki tanggung jawab intelektual tidak akan mudah untuk melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan hati nurani mereka.

Sekarang krisis resistensi sedang melanda negara kita, bahkan para pemimpin negara kita pada saat ini sedang kebingungan menentukan arah politik kebijakan negara. Lantas bagaimana dengan mahasiswa? Saya harap pers mahasiswa tidak terlalu terlibat dalam pemikiran-pemikiran yang sifatnya kekinian karena itu hanya bersifat pendangkalan-pendangkalan. Padahal pers mahasiswa mampu menyumbangkan hal yang lebih bermakna. Misalnya dengan memberikan wacana-wacana yang sifatnya lebih inofatif dan tawaran-tawaran paradigma baru bagaimana menjadi Indonesia yang lebih baik. Karenanya kebebasan pers saja tidak cukup.

Pada saat ini kebebasan pers di Indonesia sudah kebablasan, ironisnya kebebasan pers Indonesia tidak memberikan apa-apa. Kebebasan yang membodohkan itu adakah suatu bentuk dari kebebasan pers yang tidak ideologis. Sehingga perlu bagi persma untuk memperjelas posisi dan pilihan-pilihanya sampai pada pilihan-pilihan ideologis.

Perlu kita pahami bahwa sesungguhnya pers tidak akan pernah bisa objektif, kalaupun ada keobjektifan kita hanya satu. Yaitu keperpihakan kepada rakyat, keperpihakan kepada yang tertindas. Karenanya syah bagi persma untuk menciptakan parameter keobjektifan sendiri, tidak perlu terlalu kaku dengan aturan coverbothside yang harus benar-benar seimbang. karena kondisi rakyat dengan orang–orang besar di pemerintahan jelas berbeda. Sehingga keseimbangan berita itu tidak akan pernah bisa mengurangi penderitaan rakyat.
Dari analog kebebasan pers menjadi Pers pembebasan dalam persma kiranya mampu membuat suatu changge di Indonesia. Kalau pers kampus hanya sebatas kampus, itu sudah kuno bahkan akan berkesan elitisme. Salah satu tugas persma yang utama adalah bagaimana menjadikan kampus sebagai bagian dari masyarakat (rakyat) yang memerlukan pertolongan. Bagaimana demokrasi tidak diartikan sebagai one man one vote tapi sebetulnya voter yang seribu dimanipulasi oleh satu orang.

Gerakan-gerakan advokasi yang dilakukan mahasiswa bisa dilakukan lintas sektoral berbeda dengan yang dilakukan LSM yang lebih bersifat sektoral. Saatnya sekarang pers mahasiswa bisa menjadi penghubung dan stimulator bagi tumbuhnya gerakan rakyat. Tapi biarkan kekuatan rakyat tumbuh karena kesadarannya. Sayangnya persma sekarang terjebak pada level wacana. Wacana itu penting tetapi yang lebih penting bagaimana mengimplementasikan wacana ini pada tataran kehidupan yang lebih nyata. Paling tidak dari gerakan itu ada interaksi positif dan hipotesis yang bisa ditawarkan. Sehingga akhirnya melahirkan sintesis baru dari perkembangan dan benturan yang terjadi.

Jadi jangan sampai persma hanya terjebak pada intelectual production saja, tetapi juga mampu bekerja pada tataran praksis. Kaitannya dengan pers mahasiswa sebagai pers pembebasan adalah menuju sebagai defender of people (benteng rakyat).
Jadi perjuangan yang dilakukan oleh pers mahasiswa baik yang dilakukan oleh kita dalam level apapun, janganlah menjadi sombong, harus rendah hati. Bukan berjuang demi dan untuk rakyat, tetapi berjuang bersama-sama rakyat. Hal ini untuk menghindari sisi arogansi yang masih sering nampak pada diri kita. Jadi yang baik dilakukan adalah dari dan berjuang bersama-sama rakyat.

Mahasiswa sekarang adalah generasi yang mengugat nilai, tidak mempunyai musuh yang jelas seperti generasi sebelum tahun 1998. Generasi sekarang adalah generasi reflection, untuk mencari nilai dan arah gerakan yang tepat. Dalam kontek inilah terdapat arti penting perlunya menata kembali pola gerakan. Saya mengajak teman-teman untuk masuk ke wilayah pergerakan, yang artinya konsepsional, terarah dan terkendali dalam kontek ideologi dan terpadu dan komperhensif dalam pengertian bagaimana mencapai sasaran strategis yang didasari pilihan-pilihan ideologis dan target oriented. Lebih dari itu juga mempunyai parameter penilaian yang jelas dan bisa diukur.


Sumber : http://www.indowebster.web.id/showthread.php?t=168734&page=1

Baca Selengkapnya

  © Blogger templates Newspaper by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP