Frima Nainggolan Web Blog. Powered by Blogger.
Showing posts with label Cerita. Show all posts
Showing posts with label Cerita. Show all posts

Thursday, 19 December 2013

MAKNA NATAL dalam KESEDIHAN

Alkisah seorang wanita sebut saja namanya Icha baru mengecap pendidikan salah satu SMA Negeri di Tigalingga. Sepulang sekolah dia asyik memainkan HP nya dengan salah satu akun media sosialnya. Segala sesuatu yang dialami menjalani hidup semuanya di tuangkan di media sosialnya.

Suatu saat ibunya meninggal, perasaannya sangat terpukul dengan kepergian ibunya. Sebulan, dua bulan hingga tingga bulan berlalu. Rasa rindu kehadiran ibunya di tuangkan melalui tulisan di media sosialnya di pagi si saat hendak berangkat sekolah.

"Ibu aku kangen sama Ibu.
Natal telah tiba Ibu.
Tahun ini Natalku tanpa Ibu.

i miss u mom"

Sepulang sekolah Icha memandangi foto ibunya dengan merebahkan badan di tempat tidur sambil membuka media sosial di HPnya.

Dia melihat ada komentar di tulisan yang dibuat tadi pagi dari Aloysius orang yang tak di kenal.

"mungkin rasa rindumu, sama halnya dengan rasa rindu yang ku alami"

awalnya Icha mengabaikan komentar ditulisannya, kemudian beralih memandangi foto ibunya dan membuat air matanya menetes. Tak kuat akan rasa rindu yang dialami, kembali dia memandangi HPnya yang lagi terhubung dengan media sosial. Icha berusaha mencari profil nama yang tadinya mengkomentar tulisannya.

Setelah melihat profilnya Aloysius ternyata salah satu siswa SMA swasta di Siantar, dan beberapa bulan yang lalu di tinggal pergi oleh Ibunya kesamping sisi Yang Maha Kuasa. Icha pun tahu akan hal itu setelah melihat beberapa tulisan Aloysius di akun media sosialnya.

Melalui layanan obrolan yang di sediakan media sosial tersebut, mereka saling kenalan dan saling menguatkan. Hingga hubungan mereka pun semakin lama semakin dekat. Bahkan selalu ada saat mereka merasa sedih. Hingga mereka lulus SMA.

3 bulan berlalu, saat Icha dinyatakan tak lulus masuk ke Perguruan Tinggi Negeri. Icha kembali meninggalkan tulisan di media sosialnya.

"tak dapat Perguruan Tinggi Negeri tidak menutup kemungkinan aku berhasil dengan masuk Perguruan Tinggi Swasta"

beberapa menit kemudian Aloysius meng-Like tulisannya, dan meninggalkan pesan

"Tak ada yang mustahil bagi -Nya, jika kita memiliki keinginan dan keyakinan"

::::::::::::
::::::::::::

Singkat cerita, Icha mendaftar di salah satu Perguruan Tinggi Swasta di kota Medan. Begitu juga halnya dengan Aloysius. Yang tak mereka sadari bahwa mereka berada sama di satu perguruan Tinggi beda fakultas.

Walaupun demikian mereka tak pernah mengetahui hal itu karena mereka hanya berbalas komentar saja swlama satu tahun lamanya. Sampai rasa satu sama lain saling membutuhkan dan rasa sayang pun timbul diantara mereka.

Hingga suatu saat Icha dan Aloysius mengikuti salah satu Natal salah satu unit kegiatan mahasiswa. Icha dan Aloysius saling berpapasan saat hendak memasuki ruangan. Dalam benak mereka saling bertanya-tanya.

Icha : "Bukankah ini Aloysius, temanku yang selama ini berbalas komentar di media sosialku.?" sambil tetap memperhatikan wajah Aloysius dan mengambil tempat duduk tak jauh dari Aloysius.

sama halnya dengan Aloysius

Aloysius : "Bukankah gadis ini yang selama ini twemanku berbalas komentar di media sosialku.?" sesekali curi pandang kepada Icha.

Karena rasa penasaran yang mereka rasakan, kedua-duanya menuliskan tulisan di akun media sosial mereka.

"Lagi mengikuti perayaan natal Unit Kegiatan Mahasiswa Pers Universitas ...."

Beberapa saat setelah meninggalkan tulisan dan saling memperhatikan beranda media sosial. Kalau sajanya tulisan mereka sama. Dan keduanya saling lempar senyum dan tanpa ada aba-aba dari satu sama lain mereka berdua meninggalkan ruangan dan bergegas keluar dengan pintu berbeda.

Saat mereka berhadapan Aloysius dan Icha saling mengulurkan tangan. Karena dengan bersamaan tiba-tiba keduanya menarik kembali tangannya.
Kemudian keduanya kembali mengulurkan tangan hingga bersentuhan.

Aloysius : "I.."
Icha : "Al.."

keduanya tak menyelesaikan kalimat yang hendak di sebutkan.

Icha : "Aloysius kan.?"
Alosysius : "benar, Kamu Icha kan..?"
Icha : memeluk Aloysius tanpa menjawab pertanyaan Aloysius. Sambil berbisik di pelukan Aloysius
"aku sayang kamu, lama sudah aku ingin jumpa dan mengatakan itu"
dan mengeluarkan air mata
Aloysius : kemudian memeluk Icha lebih erat sambil berkata.
"Aku juga sayang bahkan cinta sama kamu"

Setelah mereka melepas rasa rindu dan mengucapkan rasa sayang dan cinta dengan berpelukan. Keduanya kembali ke dalam ruangan dengan sukacita dan gembira mengikuti kebaktian natal dan mengambil tempat duduk yang berdampingan.


_Aloysius Si Batang KapOer
Baca Selengkapnya

Friday, 15 March 2013

Andai aku jadi..??


Andai jadi apa ya kira – kira hari ini? Oh iya, andai jadi ahli di berbagai bidang yang ada di kampus ini ajalah. Mari kita mulai tentang seberapa jauh saya bisa berandai – andai. Saya sedikit ingin bisa menulis dan menjadi penulis yang bisa disebut pengarang, penggubah, prosais, pujangga kata – kata yang elok dan dijadikan suatu kalimat yang bisa dinikmati para pembaca.


Satu persatu akan saya andai-andai kan semuanya,

Yang pertama andai saya menjadi Jerry Yang, beliau pendiri situs yahoo sekaligus pemilik yahoo. Yang seorang Imigran dari Taiwan dan hijrah ke California di San Jose bersama keluarganya. Beranak dewasa Yang kuliah di Stanford University pada tahun 1990 dan mendapatkan gelar sarjan dan master dalam waktu 4 tahun. Walaupun Yang orang sukses dia tidak lupa menyumbang kepada almamaternya 2 juta dollar ASOke yang

Kedua andakikan saya menjadi, JK Rowling seorang penulis terkaya di dunia. Pengarang serial Harry Potter nilai bayarannya lebih dari 5 pound atau 8,80 dolar per menit. Belum lagi dengan serial Harry Potter, yang dimulai pada 1997, merebut hati pembaca secara menggemparkan dengan penjualan mencapai 400 juta buku dan telah diangkat ke layar perak dalam tujuh kisah petualangan dan pastinya JK Rowling mendapatkan in come.

Ketiga andaikan saya menjadi, Y.B Mangunwijaya Pr. seorang arsitek terkenal di Indonesia lulusan Teknik Arsitektur ITB, 1959 dan mendapat julukan sebagai bapak arsitektur modern indonesia. Karyanya yang terkenal adalah Bentara Budaya Jakarta, berbagai gereja dan kawasan pemukiman Kali Code. Ia sangat peduli pada masyarakat kecil saat merancangan pemukiman di bantaran Kali Code, tidak berhenti pada pembangunan fisik namun juga pembangunan untuk memanusiakan manusia. Ia memberikan pendampingan pada korban waduk Kedungombo sampai berhasil ke Mahkamah Agung, untuk jasanya itu ia dicap Komunis oleh orde baru. Rohaniawan Katolik ini menempuh pendidikan seminari pada Seminari Menengah Kotabaru, Yogyakarta, yang dilanjutkan ke Seminari Menengah Santo Petrus Kanisius di Mertoyudan, Magelang.  

Keempat andaikan aku menjadi Wu Yulu, petani berusia 49 tahun yang hidup di pinggiran Beijing, mendadak terkenal karena robot yang diciptakannya. Robot ciptaan Wu tak hanya menarik perhatian publik China tetapi segera akan memikat dunia internasional. Wu yang hanya tamatan sekolah dasar ini telah membuat kagum masyarakat China dan dielu-elukan bak pahlawan berkat penemuannya. Ia mengembangkan 47 robot untuk membantu aktivitasnya sebagai petani.

Kelima andaikan aku menjadi Mahfud MD kan ku tegakkagn hukum di Indonesia yang masih saja lemah. Agar tercipta kedamaian.

Keenam anadikan aku menjadi Dr. H. Muhammad Hatta. Beliau adalah salah satu tokoh ekonomi Indonesia yang berhasil sampai menjadi menjadi wakil presiden Indonesia periode pertama di era orde lama menemani Bung Karno. M. Hatta yang lahir pada tanggal 12 Agustus 1902 di kota Bukittinggi Sumatera Barat memiliki latar belakang pendidikan ekonomi di Handel Middlebare School atau Sekolah Menengah Dagang di Batavia dan lulus pada tahun 1921. Selepas lulus di sekolah Handel Middlebare School, Hatta melanjutkan sekolah ke Sekolah Tinggi Ekonomi di Nederland Handelshogeschool, di kota Rotterdam, Belanda. 

Sebagai seorang tokoh ekonomi Indonesia, Bung Hatta di kenal dengan pemikirannya yakni Hattanomics yang memiliki pilar utama berupa penguasaan aset oleh negara, kontrol terhadap swasta, dan tumbuhnya perekonomian rakyat yang mandiri. Kekuasaan aset oleh negara bukan berarti berhaluan sosialis namun tak lebih dari kontrol pemerintah dalam rangka melayani hajat hidup orang banyak dengan maksimal, meskipun kemungkinan besar masalah ekonomi tetap akan timbul. Kontrol terhadap swasta dalam artian membatasi dan mengontrol swasta agar tidak merugikan masyarakat banyak dan tetep mengutamakan keuntungan bersama,dan tumbuhnya perekonomian rakyat yang mandiri adalah impian Hatta agar masyarakat sejahtera.

ketujuh andaikan aku menjadi guru. kukan pilih menjadi guru i, asa ni datui sude Pemimpin na Korupsi sampai yang menindas rakyat. 
Baca Selengkapnya

Saturday, 18 August 2012

Ngampoes dengan sendal Jepit

Hayo.... siapa yang masih suka pakai sandal ke kampus..??Walau sekarang sandal jepit sudah banyak bentuk dan modifikasi yang unik, lucu dan harga yang berfareasi tetep aja judulnya sandal jepit. Seperti kisah si Butet yang mungkin mirip sama yang suka nyantai ke kampus pakai sandal jepit. Padahal jelas sekali ada peraturan yang tak tertulis seperti “TIDAK MELAYANI MAHASISWA YANG MEMAKAI SENDAL” dan (NO KAOS DAN SANDAL) namun sudah jadi patokan di berbagai kalangan. Boleh-boleh aja sih tidak ada yang larang, selama tidak melangar Pancasila dan UUD 1945 tapi resikonya ditanggung penumpang ya (kwkwkwkwkwkw kaya naik angkot aja yah...).

Enaknya pakai sendal jepit, kaos oblong dan bergaya santai mungkin kita bisa santai, bergerak bebas, aman dari gangguan pencopet (karena pasti dikira temennya dia seprofesi…hahahaha), terus keliatan gaya “ini gue banget geto loh”, free style dan masih banyak lagi seribu satu alasan. Ada enaknya pasti ada enggak enaknya. Udah pasti enggak dapat pelayanan dari Tata Usaha, dipandang sebelah mata, dicurigai ini-itu, dikira enggak punya duit (padahal bawa duit sekantong plastik), diusir dosen dari perkuliahan (jelas ini kerugian besar), kaga bisa dosen, dekan, rektor, yaa karena itu tadi takut dimarahin (udah tau konsekuensinya malahan pake sandal jepit). Maih tetap nekat aja pakenya. Dalam pikiran, nanti kalau kuliah bisa tukeran sepatu sama teman atau siapa aja yang di temui. Asal temennya tidak kuliah dan lagi nongkrong di Kantin, Sekretariat UKM kan bisa tuh dipinjemin.

Butet mahasiswi yang agak nyentrik dan rada-rada berani tabrak aturan. Menurut dia aturan yang dia tabrak aturan yang kecil-kecil, yang remeh temeh bukan aturan besar dan fatal seperti membakar gedung Rektorat ataupun nyolong Mobilnya Rektor (hahahhaaaa nekat yo...). Pernah suatu hari Butet mengikuti perkuliahan memakai sendal jepit. Agar tidak di tegur dan sampai di marahin dosen Butet lebih dahulu masuk ke ruangan perkuliahan dan duduk di belakang (sediakan payung sebelum hujan, solusi yang ajip.. Hahahaaha). Level ini mungkin berhasil.

Kisah lainnya selain kuliah, Butet juga aktif di salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa. Sepulang perkuliahan Butet ada pertemuan anggota di sekretariat tapi kali ini Butet masih tetap make sendal jepit melaini anggota temen lainnya yang masih menggunakan sepatu. Kejadian yang mengesalkan bagi si Butet ketika pertemuan berlangsung ternyata tinta dan spidol untuk menulis di blackboard habis, dan dia di utus untuk membeli keluar kampus. Berangkat keluar dari kampus masih nyantai aja dengan sendal jepitnya, tetapi ketika hendak memasuki kampus dengan tidak sengaja Butet berpapasan dengan Rektor (wadauuuu mampos.... tidak terelakkan lagi) Yah tentunya Butet di tegur oleh Rektor dan disuruh pulang untuk mengganti sendal jepitnya dan balik dengan sepatu (walaupun sudah menjelaskan beribu alasan dan dengan beribu trikk tetap saja tidak di izin kwkwkwkww..). Berpura-pura beranjak pergi ninggalin tuh Rektor (dengan harapan tu Rektor beranjak dari tempatnya biar bisa masuk lagi) sambil menoleh ke belakang tapi sialnya tidak beranjak pula tuh Rektor. Dan akhirnya sampai di ujung jalan, dia mengalah dengan aturan sepele itu. Butet bergegas ke kontrakan mengganti sendal jepit dan memakai sepatu soalnya di kantin tadi tidak ada sepatu teman yang sama no kakinya rencana mo minjem (kebesaran dan kekecilan soalnya no sepatunya jarang yang sama dengan dia). Setelah mengganti sendal jepit dan masuk ke kampus tau-taunya si Rektor tetap masih aje nongkrong di tempat Butet di tegur tadi.(walaupun sudah sore, masih ada perkuliahan)
"Sore Pak..!!" sapa Butet.
Dengan membaguskan kacamatanya si Rektor menjawab
"Sore...!! gitu baru Mahasiswi"
sambil memperhatikan sepatunya si Butet.

Dan butet bergegas menjumpai temen-temennya yg lagi pertemuan. 
Klo Level ini gimana menurut pembaca...??? 



by : Frima Dhani Syah Putra Nainggolan
Baca Selengkapnya

Thursday, 17 November 2011

Soe Hok Gie dan Gunung Semeru


Apa hubungan antara Soe Hok Gie dan Puncak Mahameru?
Dan apa yang berkaitan antara keduanya?
Soe Hok Gie dan Mahameru adalah dua legenda Indonesia, sedangkan hubungan antara keduanya?
Soe Hok Gie wafat di Mahameru saat melakukan pendakian pada 18 Desember 1969 karena menghirup asap beracun gunung tersebut.


Soe Hok Gie dilahirkan pada tanggal 17 Desember 1942. Dia adalah sosok aktifis yang sangat aktif pada masanya. Sebuah karya catatan hariannya yang berjudul Soe Hok Gie: Catatan Seorang Demonstran setebal 494 halaman oleh LP3ES diterbitkan pada tahun 1983. Soe Hok Gie tercatat sebagai mahasiswa Universitas Indonesia dan juga merupakan salah satu pendiri Mapala UI yang salah satu kegiatan terpenting dalam organisasi pecinta alam tersebut adalah mendaki gunung. Gie juga tercatat menjadi pemimpin Mapala UI untuk misi pendakian Gunung Slamet, 3.442m.

Kemudian pada 16 Desember 1969, Gie bersama Mapala UI berencana melakukan misi pendakian ke Gunung Mahameru (Semeru) yang mempunyai ketinggian 3.676m. Banyak sekali rekan-rekannya yang menanyakan kenapa ingin melakukan misi tersebut. Gie pun menjelaskan kepada rekan-rekannya tesebut :
“Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal obyeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.”
Sebelum berangkat, Gie sepertinya mempunyai firasat tentang dirinya dan karena itu dia menuliskan catatannya :
“Saya tak tahu apa yang terjadi dengan diri saya. Setelah saya mendengar kematian Kian Fong dari Arief hari Minggu yang lalu. Saya juga punya perasaan untuk selalu ingat pada kematian. Saya ingin mengobrol-ngobrol pamit sebelum ke semeru. Dengan Maria, Rina dan juga ingin membuat acara yang intim dengan Sunarti. Saya kira ini adalah pengaruh atas kematian Kian Fong yang begitu aneh dan begitu cepat.”
Dari beberapa catatan kecil serta dokumentasi yang ada, termasuk buku harian Gie yang sudah diterbitkan, Catatan Seorang Demonstran (CSD) (LP3ES, 1983), berikut beberapa kisah yang mewarnai tragedi tersebut yang saya kutip dari Intisari :
Suasana sore hari bergerimis hujan dan kabut tebal, tanggal 16 Desember 1969 di G. Semeru. Seusai berdoa dan menyaksikan letupan Kawah Jonggringseloko di Puncak Mahameru (puncaknya G. Semeru) serta semburan uap hitam yang mengembus membentuk tiang awan, beberapa anggota tim terseok-seok gontai menuruni dataran terbuka penuh pasir bebatuan, mereka menutup hidung, mencegah bau belerang yang makin menusuk hidung dan paru-paru. Di depan kelihatan Gie sedang termenung dengan gaya khasnya, duduk dengan lutut kaki terlipat ke dada dan tangan menopang dagu, di tubir kecil sungai kering. Tides dan Wiwiek turun duluan.
Dengan tertawa kecil, Gie menitipkan batu dan daun cemara. Katanya, “Simpan dan berikan kepada kepada ‘kawan-kawan’ batu berasal dari tanah tertinggi di Jawa. Juga hadiahkan daun cemara dari puncak gunung tertinggi di Jawa ini pada cewek-cewek FSUI.” Begitu kira-kira kata-kata terakhirnya, sebelum turun ke perkemahan darurat dekat batas hutan pinus atau situs recopodo (arca purbakala kecil sekitar 400-an meter di bawah Puncak Mahameru).
Di perkemahan darurat yang cuma beratapkan dua lembar ponco (jas hujan tentara), bersama Tides, Wiwiek dan Maman, mereka menunggu datangnya Herman, Freddy, Gie, dan Idhan. Hari makin sore, hujan mulai tipis dan lamat-lamat kelihatan beberapa puncak gunung lainnya. Namun secara berkala, letupan di Jonggringseloko tetap terdengar jelas.
Menjelang senja, tiba-tiba batu kecil berguguran. Freddy muncul sambil memerosotkan tubuhnya yang jangkung. “Gie dan Idhan kecelakaan!” katanya. Tak jelas apakah waktu itu Freddy bilang soal terkena uap racun, atau patah tulang. Mulai panik, mereka berjalan tertatih-tatih ke arah puncak sambil meneriakkan nama Herman, Gie, dan Idhan berkali-kali.
Beberapa saat kemudian, Herman datang sambil mengempaskan diri ke tenda darurat. Dia melapor kepada Tides, kalau Gie dan Idhan sudah meninggal! Kami semua bingung, tak tahu harus berbuat apa, kecuali berharap semoga laporan Herman itu ngaco. Tides sebagai anggota tertua, segera mengatur rencana penyelamatan.
Menjelang maghrib, Tides bersama Wiwiek segera turun gunung, menuju perkemahan pusat di tepian (danau) Ranu Pane, setelah membekali diri dengan dua bungkus mi kering, dua kerat coklat, sepotong kue kacang hijau, dan satu wadah air minum. Tides meminta beberapa rekannya untuk menjaga kesehatan Maman yang masih shock, karena tergelincir dan jatuh berguling ke jurang kecil.
“Cek lagi keadaan Gie dan Idhan yang sebenarnya,” begitu ucap Tides sambil pamit di sore hari yang mulai gelap. Selanjutnya, mereka berempat tidur sekenanya, sambil menahan rembesan udara berhawa dingin, serta tamparan angin yang nyaris membekukan sendi tulang.
Baru keesokan paginya, 17 Desember 1969, mereka yakin kalau Gie dan Idhan sungguh sudah tiada, di tanah tertinggi di Pulau Jawa. Mereka jumpai jasad keduanya sudah kaku. Semalam suntuk mereka lelap berkasur pasir dan batu kecil G. Semeru. Badannya yang dingin, sudah semalaman rebah berselimut kabut malam dan halimun pagi. Mata Gie dan Idhan terkatup kencang serapat katupan bibir birunya. Mereka semua diam dan sedih.




Komplitnya klik : Soe Hok Gie
Baca Selengkapnya

Sunday, 6 November 2011

CINTA BUKANLAH REJEKI

Pemuda itu berdiri di tepian, memandang riak air yang seperti menari menuruti irama dalam hatinya. Ada kesejukan yang menawan, bukan sekedar karena dia berlindung dari terik mentari di bawah rindang pepohonan, bukan pula karena tiupan angin yang dengan lembut menerpa wajah dan tubuhnya. Tapi kesejukan itu bersumber dari hatinya yang tenang, hati yang senantiasa berbaik sangka pada Tuhan, atas kehidupan yang dia jalani di muka bumi ini.

Dilihatnya seorang lelaki setengah baya yang sedang memancing tak jauh dari tempatnya berdiri. Meski sedari tadi tak didapati ikan yang tertipu akan umpan di kail pancingnya, dia tetap duduk tenang. Ah, betapa sabarnya lelaki itu. Yang tetap berikhtiar dengan terus memasang umpan yang lagi-lagi hilang.

Disandarkanya pundak ke pohon tegap, lalu dibukalah SMS yang baru saja menghampiri inbox ponsel sederhanannya. Senyum pun mengembang dari bibirnya ketika membaca isi SMS yang selalu saja nyaris sama, ungkapan perhatian dari gadis terhadap seorang jejaka.

Diraba hatinya dengan rasa, namun masih saja seperti sedia kala. Tautan itu masih belum terwujud jua, sementara waktu terus melaju, dan pertanyaan akan hal yang sama pun semakin menumpuk di bahu. Diliriknya lelaki yang mancing tadi yang mengucap syukur memecah sunyi, ada ikan besar di ujung pancingnya, dan dia teramat bahagia. Dan sang pemuda pun bergumam, “ya. itulah buah kesabaran, dan aku percaya Pada-Mu, kau pun kan mempertemukanku dengan sosok indah itu.”

Sang pemuda membuka kemasan roti, lalu dilemparkannya roti itu ke danau. Sepertinya ikan-ikan bahagia, dan itulah rejeki yang mereka terima dan rejeki memang kadang datang tanpa diduga, seperti halnya cinta.

By :Frima Nainggolan

Baca Selengkapnya

Friday, 4 November 2011

SEBELUM KEMATIANKU

Kepedihan hati yang aku rasakan terasa sangat menyakitkan hatiku. Ku harus terima kenyataan yang akan aku alami dan aku rasakan dalam kehidupanku. Mungkin itu sebuah awal, atau mungkin itu juga merupakan sebuah akhir hidup yang harus aku jalani dan hadapi dengan penuh rasa penyerahan diri yang mendalam kepada Tuhan kita Yesus Kristus.
Aku gak tahu kapan dan dimana waktu itu akan tergenapi dalam hidupku. Akankah menyakitkan ataukan menyenangkan atau mungkin penuh dengan sukacita yang besar buatku. Akan tetapi satu hal yang pasti yakni aku harus bisa memberikan yang terbaik yang bisa aku berikan selama aku masih hidup. Karena hal terindah dalam hidup itu adalah saat kita bisa memberikan sesuatu yang berarti bagi orang lain, dan kita selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik dalam setiap hela nafas hidup kita dan setiap perbuatan kita dan itu yang kini baru aku sadari dan ingin aku lakukan saat ini.
Merinding, negeri yang aku rasakan saat aku teringat akan kematian…entah apa sebenarnya kematian itu, aku sendiri gak tau pasti. Akan tetapi saat aku merasakan kekhawatiran dan ketakutan yang begitu dalam…,aku teringat akan satu nats Alkitab yang mengatakan ‘janganlah khawatir akan hidupmu,karena Allah selalu mempersiapkan yang terbaik untukku dan untukmu di satu tempat dan di satu waktu, Ia punya rencana yang sangat indah buat hidup aku…Ia sudah mempersiapkan sebuah rencana indah yang aku tidak ketahui sampai saat ini.
Terpikir olehku untuk mengenangkan kembali kisah sengasara Tuhan kita Yesus Kristus yang begitu pahit dan menyakitkan. Gak kebayang biilamana aku yang harus menjalaninya, tentu aku gak akan sanggup, oleh karenanya kau gak boleh ragu lagi pada Tuhan kita Yesus Kristus, karena Ia adalah setia sampai selama-lamanya dan Ia akan membawaku besertanya kedalam Kerajaan Sorga.
Aku sendiri gak tau, kok aku sekarang merasa gak ada takut dan rasa keraguan dalam diriku disaat aku merasa kematian begitu dekat dengank. Aku malah merasa sangat tenang dan damai sekali dalam hati aku. Entahlah…entah apa yang membuatku menjadi yakin seyakin ini…Namun satu hal yang pasti yakni aku memang harus berani hadapi semua ini, dan tetap berserah diri kepada Tuhan kita Yesus Kristus sebab Aku yakin Ia akan selalu besertaku dan selalu menguatkan aku, dan gak ada hal yang mustahil bagi-Nya.
Teringat jadinya aku….akan masa kecilku yang begitu penuh dengan keceriaan dan kegembiraan yang begitu tulus aku rasakan dalam hidup aku. Indah…Indah sekali masa itu. Terpikir olehku untuk kembali ke masa itu, namun apalah dayaku…aku tak berkuasa untuk kembali ke masa itu. Pada-Nya lah aku berserah dan pasrah baik kapan pun aku kan di jemputnya.


By : Frima Nainggolan
Baca Selengkapnya

PELANGI DI MATA GADIS

Hujan deras setengah jam yang lalu, menyisakan rintik – rintik hujan ditemani angin semilir yang membuat tubuh si gadis semakin menggigil, meski kedinginan, ia tak juga beranjak dari tempat duduknya,

“Lihatlah gadis di bawah sana, sudah lima tahun ia menunggu kekasihnya.”

Matahari menunjuk seorang gadis di sebuah taman.

”Setia sekali gadis itu, ia rela duduk mematung setiap sore di bawah pohon itu hanya untuk menunggu pelangi.” Awan kasihan kepada sang gadis.

”Memang, ada apa dengan pelangi ? Bukankah ia sedang menanti kekasihnya ?

Kenapa ia menunggu aku datang ?” Tanya pelangi penasaran.

”Si gadis dan kekasihnya berjanji, jika sore ini ia melihat pelangi dan kekasihnya datang menemuinya, mereka akan menikah.” Jelas Matahari.

”Jadi, lima tahun yang lalu mereka berjanji akan bertemu disana ? Awan ikut penasaran.

”Tepatnya musim hujan lima tahun yang lalu, mereka akan bertemu saat musim hujan lima tahun kemudian dan keduanya berjanji akan menikah jika melihat pelangi ketika mereka bertemu lagi”. Matahari semakin bersemangat menceritakan kisah mereka.

”Berarti, hanya sore ini ia menungguku ? Pelangi bertanya.

”Mungkin ? Setiap sore ia menyempatkan waktu untuk duduk di taman, ia berpikir ”mungkin, kekasihnya akan datang lebih cepat, tapi....” Ucap Matahari.

”Tapi apa ?” Sela Hujan.

”Sampai saat ini ia belum juga datang ?” Raut wajah metahari prihatin.

******

Dua jam berlalu,

Akhirnya laki – laki yang mereka bicarakan datang, ia menepati janjinya...

Semua bahagia, Matahari, Pelangi, Hujan, Awan, mereka tersenyum bahagia...

”Cepat, biaskanlah cahayaku !” Perintah Matahari kepada Hujan.

”Jangan mendung dahulu ??” Hujan khawatir awan akan mendung.

”Tidak, jangan khawatir.” Awan mencoba meyakinkan hujan.

Mereka berbincang – bincang, si gadis tak henti – henti memandang ke atas, berharap pelangi akan muncul sore ini.

Menjelang pembiasan cahaya, sedikit lagi…tiba – tiba…

“Whuuuuusssss.” Hembusan – hembusan angin menggagalkan kedatangan

pelangi, langit berubah menjadi mendung.

Semua bersedih, gadis itu menangis…

“Aku sudah datang, mengapa kamu menangis ??” Tanya lelaki itu sembari mengusap air mata si gadis.

Rupanya, lelaki itu lupa akan janji mereka beberapa tahun yang lalu dan si gadispun mengingatkannya, ia menjelaskan, mengapa ia menangis.

”Jangan menangis, jika kamu menangis, hatiku ikut menangis. Meski sore ini tak ada pelangi di atas sana. Di sini, aku melihat pelangi itu ?? Hibur si lelaki.

”Dimana ??” Si gadis penasaran, isakannya masih terdengar.

”Aku melihat pelangi itu terpancar di kedua bola matamu, di setiap tetesan hujan, bahkan aku juga melihatnya di setiap tetesan air matamu.”

”Benarkah ???” Si gadis tersenyum.

Lelaki itu menganggukkan kepala dan membalas senyum si gadis....

Mereka saling berpandangan...

To be continue...... (hehehehee...)

By : Frima Dhani Syah Putra Nainggolan


_____________________________________________________________

Baca Selengkapnya

  © Blogger templates Newspaper by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP